KPK Sesalkan Pemakaman Koruptor di Taman Makam Pahlawan

Jakarta, sinarindonesia.id– Pemakaman jenazah mantan Walikota Batu, Jawa Timur, Eddy Rumpoko di Taman Makam Pahlawan (TMP) Suropati, mendapat sorotan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pihaknya menyesalkan, seorang terpidana kasus korupsi yang jelas-jelas merugikan negara dan mengkhianati rakyat di makamkan dibarisan para pejuang bangsa Indonesia.

“Pimpinan KPK menyesalkan seseorang yang telah berdasarkan putusan hukum dinyatakan korupsi yang artinya telah merugikan dan mengkhianati rakyat dan negara Indonesia ternyata dimakamkan di taman pahlawan,” kata Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron melalui pesan tertulis, Minggu (10 Desember 2023).

Dijelaskannya, pihaknya akan melakukan evaluasi dengan meminta agar ke depan dilakukan peninjauan ulang mengenai prosedur pemakaman di TMP. Hal itu sekaligus untuk me-review kembali tentang protap (Prosedur Tetap) yang berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

“Situasi itu diperlukan me-review kembali tentang protap (prosedur tetap) siapa yang berhak dimakamkan di TMP, yang semestinya apa pun penghargaannya jika ternyata setelahnya terbukti korupsi,” ujarnya.

Perlunya pengkajian ulang terhadap protap pemakaman tersebut, disiarkan KPK setelah mendengar ungkapan dari istri aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib, Suciwati.

“Dari ungkapan itu KPK berpandangan penting untuk tidak mencederai penghormatan bangsa Indonesia kepada para pahlawannya,” pungkasnya.

Kepada sinarindonesia.id, Suciwati mengatakan Eddy tak seharusnya dimakamkan di TMP karena saat meninggal dunia masih berstatus terpidana kasus korupsi dan berada di dalam penjara.

“Moral bangsa seakan bejat, bagaimana hari ini Eddy Rumpoko orang yang jelas-jelas dia masih di penjara, dia korupsi, koruptor, kemudian dia meninggal ditaruh di TMP, Taman Makam Pahlawan. Layakkah itu?” kata Suciwati, dalam konferensi pers Hari HAM secara daring, Jumat (8 Desember 2023).

Diketahui, Eddy Rumpoko meninggal dunia pada Kamis (30 November 2023) sekitar pukul 05.30 WIB di Rumah Sakit (RS) Dokter Kariyadi Semarang. Eddy saat itu berstatus tahanan kasus korupsi di Lapas Semarang.

Eddy merupakan terpidana kasus gratifikasi senilai Rp46,8 miliar. Oleh Pengadilan, Eddy divonis 7 tahun penjara. (Red)

By: H@did

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *