Pengukuhan Paguyuban Sanggar Seni Putro Wahyu Aji di Kampung Sripurnomo

Daerah, Headline1075 Dilihat

Lampung Tengah, sinarindonesia.id, Camat Kalirejo, Johanes kukuhkan Paguyuban Sanggar Seni Putro Wahyu Aji di Kampung Sripurnomo, Kecamatan Kalirejo, Kabupaten Lampung Tengah, Minggu 8 Oktober 2023.

Aksi kuda kepang dan berbagai seni tari di tampilkan.

Hadirnya sanggar seni di desa tersebut berhasil mengubah suasana perkampungan. Masyarakat yang mayoritas berasal dari pulau Jawa itu, terlihat antusias menyaksikan tarian kuda kepang dan seni budaya lainnya, yang jarang dijumpai.

Ketua Paguyuban Sanggar Seni Putro Wahyu Aji, Nanang Suprapto mengatakan acara yang digelar oleh Paguyuban Sanggar Seni Putro Wahyu Aji dalam rangka melestarikan seni budaya.

“Acara hari ini dalam rangka pengukuhan dan pentas perdana Sanggar Seni Putro Wahyu Aji. Dan ini kiprah kita untuk menjaga dan melestarikan seni budaya nenek moyang kita,” kata Nanang, disela acara.

Pemukulan gong tanda pengukuhan

Dia menjelaskan dengan dikukuhkannya Paguyuban Sanggar Seni Putro Wahyu Aji khususnya di Kampung Sripurnomo dapat menjadi ajang silahturahmi dan memperkenalkan seni budaya kuda kepang kepada para generasi muda dan masyarakat secara umum.

“Ini merupakan upaya kita menjaga dan melestarikan dan mencintai seni budaya melalui pementasan atau pertujukan dan juga menjadi ajang saling bersilahturahmi dan menjaga kekompakan khususnya para pencinta seni disini,” ujarnya.

Sementara itu Camat Kalirejo, Johanes menyatakan sangat mengapresiasi pengukuhan dan pentas seni yang di gelar Paguyuban Sanggar Putro Wahyu Aji.

“Ini merupakan warisan budaya nenek moyang kita yang harus dan tetap kita lestarikan.Kesenian atau paguyuban sanggar Putro Wahyu Aji dan merupakan kewajiban kita untuk melestarikannya,” kata Johanes.

Dia menjelaskan, keberadaan paguyuban sanggar Seni Wahyu Putro Aji khususnya di Kecamatan Kalirejo merupakan aset dan bentuk sumbangsih kepada negara melalui yaitu seni dan kebudayaan.

“Presiden Amerika, Jhon F Kennedy, mengatakan Jangan Tanyakan Apa Yang Negara Ini Berikan Kepada Kita Tapi Tanyakan Apa yang Telah Kita Berikan Kepada Negaramu. Dan pengukuhan Sanggar Wahyu Aji merupakan salah satu andil atau sumbangsih kita kepada negara, menjaga dan melestarikan seni budaya,” ujarnya.

Forkopimcam Kalirejo turut hadir pula perwakilan polsek kalirejo Bhabinkambtimas Bripka Novri dan Danramil Kalirejo yang diwakili Babinsa Sersan Triyadi turut memberikan apresiasi diresmikannya Paguyuban dan sanggar Seni Putro Wahyu Aji.

Mereka juga mengingatkan masyarakat dikondisi elnino dan kemarau panjang ini, agar masyarakat berhati-hati dalam membakar sampah mengantisipasi kebakaran.

Hadir juga kepala kampung Sinarrejo Jumroni dan perwakilan kampung Srimulyo serta bebarapa paguyuban seni sekitar kampung Sripurnomo dan Turunggo Cipto Manunggal.

Mereka mendukung jalanya peresmian sanggar seni Putro Wahyu Aji yang di bina oleh Sobirin dan Ketuai oleh Nanang Suprapto tersebut.

Kepala Kampung Sripurnomo Iswandi juga mengaku sangat mengapresasi adanya sanggar seni di Kampung Sripurnomo. Dengan harapan mampu menjadi Icon desa bahkan kecamatan terlebih tingkat kabupaten bahkan tingkat provinsi .

Salah satu tokoh masyarakat Wahyudi S.E.,M.M yang juga aktivis masyarakat yang peduli kerukunan umat beragama dalam bermasyarakat serta peduli dengan kemajuan masyarakat sekitar turut memberikan dukungan untuk menjaga melestarikan seni budaya.

“Saya menitipkan Paguyuban Putro Wahyu Aji kepada pemerintahan dalam hal ini diwakilkan oleh Camat Kalirejo Bapak Johanez Chanzen, Kami menitipkan Putro Wahyu Aji menjadi asset negara NKRI yang kita Cintai ini,” katanya.

Salah satu putra daerah Kalirejo, Tri Wiyadi yang merupakan bagian dari Yayasan Wangsa Jawa Dwipa suatu Lembaga yang bergerak di bidang sosial kemanusiaan, seni, adat dan budaya, spiritualisme serta nasionalisme, menerangkan bahwa berdirinya Putro Wahyu Aji ditempuh dengan beberapa tahapan.

Dimulai dari napak tilas para leluhur di tanah Lampung bahkan tanah Jawa, baru melakukan latihan bersama selama tujuh Kamis dan tujuh Senen dengan tujuan memantapkan dan memaknai seni dengan baik.

“Serta dipungkasi dengan doa bersama, mendoakan para pejuang bangsa, para leluhur pendahulu kita serta orang tua kita dan dilanjutkan taysakuran bersama masyarakat sekitar guna mewujudkan bentuk Syukur kita kepada Allah Swt,” kata Tri.

Tentunya agar kegiatan ini mendapat dari Ridho Allah Swt, mampu membawa keberkahan dan kebermanfaatan untuk banyak orang.

Tri Wiyadi menyatakan melestarikan budaya adalah menjadi tanggung jawab bersama sebagai anak bangsa, “Inilah wujud cinta kita terhadap tanah kelahiran dan cinta terhadap warisan Seni Budaya Indonesia karena jika bukan kita siapa lagi, jangan sampai diakui bangsa lain kita baru tergugah untuk menjaga,” katanya.

Terlebih adanya Paguyuban dan Sanggar Seni Putro Wahyu Aji juga dapat menjadi sarana bersilaturahmi sesama masyarakat. “Serta menghidupkan suasana desa menjadi berwarna,” katanya. (Red)