Surau Sydney Australia Sarana Perantau Minang Mengupas Pituah Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah

Global, Headline301 Dilihat

Australia, sinarindonesia.id– Setelah menempuh perjalanan panjang dan berliku, masyarakat Australia berdarah Minang atau Sumatera Barat, akhirnya memiliki surau atau rumah ibadah di luar Negeri.

Rumah ibadah Bernama Surau Sydney Australia itu, berada di Gertmore Avenue, nomor 1 Bankstown, New South Wales, Australia. Surau tersebut menjadi Surau Pertama milik orang Minang, sehingga kehadirannya patut dibanggakan oleh masyarakat Sumatera Barat di ranah maupun di rantau.

“Ini adalah sejarah bagi masyarakat Minangkabau, hadirnya Surau Sydney Australia berkat dukungan banyak pihak, terlebih para perantau dan tokoh Diaspora Minang di Australia,” kata Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi saat meresmikan Surau Sydney.

Dijelaskannya, berdirinya Surau Sydney Australia merupakan tonggak sejarah bagi komunitas orang Minang yang tinggal di luar negeri, khususnya di kota Sydney. Surau ini bukan hanya sekadar bangunan fisik, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, keberagaman, dan identitas bagi orang Minang dan komunitas Muslim di kota ini.

Surau Sydney kemudian hadir sebagai wadah untuk menyatukan orang-orang Minang yang merindukan kampung halaman dan ingin mempertahankan warisan adat dan agama mereka. Kehadiran surau ini mencerminkan betapa kuatnya ikatan kebersamaan dan semangat menjaga akar budaya, terutama ketika mereka berada di tanah yang jauh dari tanah leluhur.

“Semoga Surau ini dapat menjadi pusat aktivitas komunitas yang berakhlak mulia, berdaya saing tinggi dalam teknologi, dan tetap berbasis pada ajaran Islam yang tercermin dalam filosofi kita, Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah,” ujar Gubernur Sumatera Barat.

Sementara itu, Consul General RI di Sydney Australia, Verdi Kurnia, yang turut hadir dalam peresmian surau tersebut menyampaikan, Surau Sydney merupakan sejarah dan terobosan besar yang dihadirkan masyarakat Minang dan bahkan rakyat Indonesia di Australia.

“Semoga hadirnya surau ini dapat menjadi ciri khas identitas masyarakat Minang, dan mampu menjaga nilai-nilai pendidikan dan budaya asal sumbar di Australia. Kami sangat bangga dengan kehadiran Surau Sydney ini, dan tentunya akan menjadi sarana bagi orang Minang di Australia untuk bersilaturahmi,” katanya.

Sejarah dibangunnya Surau Sydney

Sejarah hadirnya Surau Sydney dimulai dari kerinduan mendalam terhadap tanah air, dan kekhawatiran akan hilangnya pengetahuan budaya dan agama di kalangan generasi muda Minang di Australia.

Bergulirnya dukungan dari banyak pihak, terutama pengurus Ikatan Keluarga Minang Saiyo, dan Niniek Mamak, Surau Sydney mengalami perkembangan yang inovatif, hingga pada waktunya mengambil langkah maju dengan pemanfaatan teknologi informasi cerdas, SMART SURAU. Hal ini tidak hanya memperkuat organisasi dan persaudaraan di antara anggota komunitas, tetapi juga membuka transparansi dalam hal keuangan dan memberikan contoh sikap tulus untuk mencari ridho Allah.

“Pendirian Surau Sydney Australia ini dipandu oleh prinsip Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah, yang melambangkan integrasi adat Minang Kabau dengan prinsip-prinsip berbasis Al-Qur’an. Surau ini bukan hanya tempat ibadah, melainkan juga duta global bagi Budaya Minangkabau di Sydney Australia,” kata Presiden Surau Sydney Australia, Novri Latif di sela-sela peresmian.

Prestasi Surau Sydney ini tentunya tidak terlepas dari dukungan dan bantuan dari berbagai jaringan di seluruh dunia, termasuk Minang Diaspora Network, Yayasan Yarsi, PDA, Gubernur Sumatra Barat, dan tokoh-tokoh Minang terkemuka. Dukungan ini membuktikan bahwa semangat dan kebersamaan dalam menjaga warisan budaya dan nilai-nilai agama dapat bersatu dalam mengatasi jarak dan batasan geografis.

Dengan visi yang jelas, Surau Sydney berhasil menjadi pusat komunitas yang inklusif bagi masyarakat Minangkabau dan komunitas Muslim di Sydney. Fungsi surau yang hidup kembali menjadi penting dalam memperkaya kehidupan orang Minang dan Muslim, serta memelihara tradisi budaya Minangkabau dan nilai-nilai agama Islam sebagai landasan utama dalam kehidupan sehari-hari.

Diakhir kegiatan peresmian, Gubernur Sumatera Barat menyempatkan diri menyerahkan seperangkat pakaian adat Minang dan peralatan musik tradisional seperti talempong dan gandang rasa, agar anak-anak Minang di Sydney turut serta melestarikan seni dan kebudayaan mereka. (Red)

By: H@did

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *