Tiga Hakim Pengadilan Negeri Batam Tolak Praperadilan Tersangka Kerusuhan Pulau Rempang

Daerah, Headline, Kriminal548 Dilihat

Batam, sinarindonesia.id- Kesedihan mendalam warga Pulau Rempang, kian mendalam setelah Hakim Pengadilan Negeri Batam memutuskan menolak permohonan praperadilan 30 tersangka yang ditangkap dalam aksi unjuk rasa bela Rempang, 11 September 2023 lalu. Putusan itu dibacakan Hakim Senin (6 November 2023).

“Mengadili dalam eksepsi, menyatakan eksepsi Pemohon tidak dapat diterima. Menolak permohonan praperadilan untuk seluruhnya,” ujar semua hakim. Alasannya hakim menilai semua prosedur yang dilakukan kepolisian sudah sah secara hukum.

Sebelum sidang dimulai warga termasuk keluarga tersangka sempat diminta keluar dari pekarangan persidangan. Sontak warga melawan dan bershalawat sambil duduk di halaman Pengadilan Negeri Batam. Pembacaan putusan baru mulai pada 16.30 WIB dari jadwal awal pada pukul 13.00 WIB.

Kedua pihak baik termohon dari Polresta Barelang dan pemohon dari kuasa hukum hadir dalam proses persidangan. Pembacaan putusan dilaksanakan di tiga ruangan berbeda dengan tiga hakim tunggal, yaitu Eddi Sameaputty, Yudith Wirawan, dan Sapri tarigan.

Perwakilan Advokasi Solidaritas Nasional untuk Warga Rempang, Mangara Sijabat kecewa dengan putusan hakim yang menolak membebaskan para tersangka.

“Kami menghormati putusan itu, ini menunjukan matinya rasa keadilan di Pengadilan Negari Batam,” kata Mangara. Tim Advokasi menilai pertimbangan hakim sangat sesat karena tidak sesuai dengan hasil Visum.

“Hasil visum dinyatakan sah, karena typo. Ini cacat putusan hakim,” tegasnya.

Menurut Analisa Advokasi Solidaritas Nasional, keputusan yang dibacakan hakim untuk semua perkara jelas templet, bahkan di perkara nomor 33 tidak ada pemeriksaan ahli.

“Kami minta masyarakat silahkan berdoa ajukan permohonan laknat kepada tuhan, apabila proses praperadilan ini penuh kecurangan,” katanya.

Diketahui Ketiga puluh tersangka tersebut ditangkap polisi karena dinilai sebagai pelaku kerusuhan dalam demonstrasi warga Pulau Rempang, Senin (11 September 2023) lalu. Demonstrasi itu sendiri digelar setelah Badan Pengusaha Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (BP) Batam secara sepihak berupaya merelokasi warga untuk pembangunan proyek Rempang Eco-City.(red)

By: Hadid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *